• (021) 75791324
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Pentingnya Analisis Volatile Fatty Acid (VFA) pada Getah Karet

Karet (Hevea brasiliensis) merupakan komoditas perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. Tanaman karet berperan sebagai penyedia bahan baku industri dimana hampir seluruh bagian tanaman karet dapat dijadikan berbagai produk yang bernilai ekonomis. Bagian tersebut meliputi getah, kayu dan bahkan biji. Getah karet atau biasa dikenal sebagai lateks banyak digunakan untuk pembuatan berbagai produk karet seperti sarung tangan, kondom, dan dot bayi.

Proses pengolahan lateks akan berjalan lancar jika diiringi dengan jumlah produksi yang cukup serta kualitas lateks yang baik. Produk olahan lateks atau getah karet harus memiliki kualitas yang baik sehingga output yang dihasilkan dapat memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pada umumnya, kualitas lateks yang baik yaitu tidak terkontaminasi dengan zat asam, kontaminasi air hujan, kontaminasi tanah, dan kotoran lainnya, serta peralatan harus terjaga kebersihannya. Lateks yang baik berwarna putih dan berbau segar dan memiliki kadar karet kering 28%.

“Namun apakah parameter ini saja cukup untuk menyatakan bahwa lateks memiliki kualitas yang baik?”

Sebagian besar lateks pekat dipasarkan setelah diawetkan dengan amonia tinggi (High Ammonia-HA) dan amonia rendah (Low Ammonia-LA). Salah satu parameter kualitas utama lateks adalah kandungan asam lemak berantai pendek yang volatile atau sering disebut sebagai volatile fatty acid (VFA) yang sering dipengaruhi oleh penanganan lateks serta cuaca dan musim.

Dengan tidak adanya pengawetan yang memadai, senyawa organik dengan mudah terdegradasi oleh mikroorganisme dan menghasilkan VFA sebagai salah satu kelompok produk degradasi. VFA atau disebut juga asam lemak rantai pendek merupakan asam monokarboksilat yang memiliki nomor atom karbon kurang dari tujuh. VFA utama yang terkandung dalam lateks adalah asam format, asam asetat, asam propionat, dan sebagian kecil asam butirat dan asam valerat untuk lateks kualitas sangat rendah. Pada lateks, VFA biasanya dinyatakan sebagai bilangan VFA yang berarti banyaknya (gram) Kalium hidroksida (KOH) yang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak volatil dalam sampel lateks yang mengandung 100 gram total padatan. Angka VFA yang tinggi, yang lebih tinggi dari 0,06, menunjukkan pengawetan lateks yang tidak memadai. Batas angka VFA yang dapat diterima di industri adalah kisaran 0,082. Pada ISO 2004 (1997), angka VFA maksimum adalah 0,2, bahkan untuk kualitas ekspor yang baik angka VFA tidak boleh melebihi 0,1. Banyak pabrik menetapkan persyaratan mereka pada tingkat yang berbeda, yaitu dalam kisaran 0,028-0,15 (ThaiTex Company, 2006; SSP Rubber Thailand, 2009; Indian Natural Rubber, 2011; Indolatex Jaya Abadi Company, 2011; NR Rubber Industries, 2014; Metalco Company Limited, 2014; Chana Latex Company, 2014). Pengukuran ini memberikan indikasi sejauh mana aktivitas mikroorganisme yang telah terjadi sejak lateks disadap dari pohon. Hal-hal ini sangat penting bagi industri karena penyimpanan lateks yang mungkin harus dilakukan selama beberapa bulan sejak produksi getah karet alam yang diawetkan dan yang terkonsentrasi hingga akhirnya digunakan.

“Analisis kandungan VFA penting karena dapat menjadi indeks jaminan kualitas lateks.”

Untuk getah lateks Hevea brasiliensis, ada beberapa metode yang telah digunakan untuk menentukan VFA. Sejak 1953, Philpott dan Sekar memperkenalkan peralatan distilasi uap untuk menentukan VFA pada lateks. Sekarang ini dikenal dengan distilasi jenis Markham yang menjadi populer sebagai analisis rutin di pabrik lateks berdasarkan ASTM D10761. Namun, Ibrahim et al., (2014) telah menyebutkan bahwa distiliasi memiliki presisi yang rendah saat menentukan kandungan VFA.

“Dari wawancara dengan beberapa pabrik produk lateks, mereka juga mempertanyakan bagaimana nilai bilangan VFA dapat dipercaya, karena sebagian lateks dengan bilangan VFA yang sama tidak dapat diproses.”

Pada tahun 1985, Craft menyimpulkan bahwa kromatografi ion memiliki kinerja yang baik untuk menentukan anion organik pada lateks. Namun sayangnya sampel serum lateks karet alam yang dianalisis mengandung sejumlah besar bahan yang menyerap kuat ke resin penukar ion dalam kolom dan mengganggu penentuan asam organik. Kemudian, elektroforesis kapiler juga diusulkan sebagai metode untuk menentukan VFA. Akan tetapi, instrumen ini tidak umum di kebanyakan laboratorium kimia.

Dalam beberapa jenis matriks sampel misalnya minuman, produk makanan, cairan biologis, salah satu instrumen analisis yang paling sering digunakan untuk penentuan VFA adalah kromatografi cair kinerja tinggi – High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Melalui analisis HPLC, konsentrasi VFA individu dalam lateks Hevea brasiliensis dapat ditentukan dengan detail. Tentu saja hal ini membutuhkan investasi yang lebih tinggi dalam hal instrument peralatan dan larutan standar. Namun mengingat pentingnya penentuan konsentrasi VFA untuk menjamin mutu lateks, maka ke depannya industri perlu mempertimbangkan penggunaan HPLC karena memiliki repeatability, presisi dan tentu saja reliability yang sangat tinggi dibandingkan metode distilasi konvensional.

Kontributor:

  • Dewi Kusuma Arti, ST. MSc.
  • Hariaman Prasetyo, S.Si (Editor)
  • Galih Taqwatomo, S.T. (Ilustrator)

© 2021 Designed by Pusat Teknologi Material dan Pusat Manajemen Informasi - BPPT