• (021) 75791324
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

3 Trend Teknologi Material Tekstil

Indonesia merupakan negara dengan potensi sumber daya alam (SDA) yang sangat besar, namun pengembangan teknologi di Indonesia dapat dikatakan lambat. Pemerintah kurang memberikan perhatian terhadap pengembangan teknologi. Akhirnya lebih banyak teknologi dari luar negeri yang masuk ke Indonesia, seperti telepon pintar (smartphone), prosesor, software, hingga teknologi transportasi.

Untuk menjadi negara maju, Indonesia perlu memperhatikan aspek pengembangan teknologi. Banyak negara-negara maju di dunia karena teknologi yang dikembangkan, misalnya saja Jepang yang menguasai teknologi otomotif, Amerika Serikat yang menguasai teknologi informasi, serta Tiongkok yang menguasai teknologi elektronik. Pengembangan teknologi, khususnya teknologi tinggi seharusnya menjadi prioritas utama setelah pendidikan dasar.[1]  Pengembangan teknologi merupakan tulang punggung pembangunan ekonomi, menjadi kekuatan utama dalam persaingan global dan sarana mencapai kemakmuran bangsa.  Jika Indonesia ingin memodernisasi pertanian, logistik, industri, hingga pertahanan, maka yang harus dimodernisasi terlebih dahulu adalah sains dan teknologi, serta menjadikannya kekuatan produktif.  Prinsip tersebut digunakan oleh Tiongkok untuk menguasai teknologi di berbagai bidang dengan waktu yang ralatif singkat.

Ada beberapa faktor yang menjadikan teknologi di Indonesia kurang berkembang, diantaranya adalah kurangnya inovasi dan riset teknologi, serta kurangnya alih teknologi sebagai jalur pintas.[1]   Inovasi dan riset sangat dibutuhkan oleh suatu Negara untuk memperkuat ketahanan nasionalnya agar disegani oleh Negara lain.  Indonesia cenderung menjadi konsumen saja hanya menikmati hasil riset dari negara-negara lain. Anak-anak muda milenial atau mahasiswa di Amerika Serikat, Jerman, Jepang, serta Tiongkok saling berlomba lomba untuk menciptakan inovasi baru dan mengenalkannya kepada dunia melalui berbagai macam publikasi.

Contoh Smartphone dan internet yang kita gunakan tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Terdapat riset yang panjang sebelum teknologi-teknologi itu dapat kita nikmati bersama-sama.  Demikian juga awal kemunculan kereta uap hingga pesawat terbang juga dimulai dari percobaan riset, hingga akhirnya memicu revolusi industri yang tak terelakkan.

Riset dan pengembangan memerlukan waktu yang panjang dan biaya yang besar untuk melaksanakannya, untuk itu diperlukan jalan pintas yakni dengan cara “Alih Teknologi”.  Alih teknologi dilakukan oleh pemilik teknologi kepada Negara atau perusahaan yang membutuhkan.  Prof Bacharudin Yusuf Habibie, Presiden ke 3 Republik Indonesia dan mantan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mempunyai konsep Alih Teknologi yang dikenal dengan “Mulai dari Akhir dan Berakhir di Awal”, empat tahap transfer teknologi.[2] 

Konsep Habibie dimulai dengan Tahap 1 membeli “Lisensi” dari suatu teknologi yang digunakan.  Kemudian Tahap 2 yakni melakukan “Modifikasi Teknologi” terhadap teknologi yang telah dimiliki dengan cara lisensi, dengan cara ini Habibie melalui PT. Dirgantara Indonesia telah menghasilkan pesawat CN 250.  Selanjutnya Tahap 3 transfer teknologi yakni “Pengembangan Teknologi”, hal ini dicontohkan penerapannya pada desain dan pembuatan pesawat CN 2130.  Tahap 4 adalah tahap akhir yakni “Penelitian Dasar”.  Dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki pada modifikasi dan pengembangan teknologi maka dilakukan pembuatan desain pesawat yang betul-betul baru sama sekali seperti : pesawat CN 2130 dan R80.  Pada masa krisis tahun 1998 pembangunan pesawat CN 2130 dihentikan sama sekali atas permintaan IMF.  Model alih teknologi ini dapat digunakan pada industri manufaktur lainnya.

Penguasaan teknologi tekstil pernah dilakukan oleh PT. Perkasa Engineering (PE) pada tahun 1990an, dengan melakukan re-engineering beberapa mesin pertenunan untuk meningkatkan efisiensi dan kecepatan mesin, beberapa produk mesin tenun hasil re-engineering PT.PE sudah digunakan oleh beberapa industri tekstil dalam negeri pada saat itu.  Namun perusahaan yang bergerak sendiri ini, tanpa diketahui penyebabnya berhenti berproduksi.  Padahal perusahaan permesinan tekstil seperti ini yang dibutuhkan dalam rangka mendukung penerapan tekstil 4.0.   Untuk itu Indonesia membutuhkan industri-industri permesinan seperti PT. Perkasa Engineering untuk memperkuat supply chain pada struktur industri tekstil dan produk tekstil.

Teknologi dibidang tekstil berkembang sangat cepat.  Penggunaan teknologi komputer, sistem informasi, 3D printing, robotic telah menjadi keharusan.  Industri tekstil membutuhkan teknologi yang cepat (speed), kualitas (baik), hemat konsumsi energi dan ramah lingkungan. Persyaratan teknologi yang dibutuhkan tersebut untuk memenuhi INDI 4.0 yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia pada bulan April 2018.

Untuk industri tekstil ada dua jenis teknologi yang perlu diperhatikan pemanfaatannya yaitu : pertama, jenis teknologi yang berhubungan dengan kebutuhan peningkatan kinerja proses produksi dan kedua adalah teknologi yang berhubungan dengan penguatan jaringan (network) untuk menghasilkan efisiensi dan mengurangi waktu jedah dari proses, seperti robotic, Internet of Things, Cyber-physic system, Artificial intelligent, dan 3D printing.

Jenis teknologi pertama dapat digambarkan sebagai teknologi-teknologi untuk memberikan nilai tambah pada produk, misalnya : hollow fiber, electro-conductive, antistatic, elastic, hydrophobic, hydrophilic, low thermal shrinkage, anti-bacterial, self twisting bicomponent fibers, thermally adaptive.  Teknologi pemintalan serat baru, seperti micro-fiber spinning, bicomponent fiber spinning, konjugasi pemintalan serat memungkinkan penggabungan mikrokapsul dan zat anorganik serta teknik electrospinning.  

Teknologi yang paling popular menjadi trend saat ini adalah Plasma technology (pemanfaatan tekanan rendah dan tekanan atmosfir), Nanotechnology (Nanofibers, Nanocoating) serta Microcapsulation technology (penambahan sifat-sifat fungsional pada kain). [3]

Kedua teknologi plasma dan nano terkenal dengan teknologi yang ramah lingkungan karena tidak memerlukan air yang berlebihan seperti teknologi pewarnaan pada pencelupan, sehingga air buangan relatif sedikit.  Dengan teknologi nano, pewarnaan tekstil disemprot layaknya pewarnaan bodi mobil, sedangkan teknologi plasma, pewarnaan tekstil menggunakan uap gas.  Mekanisme proses plasma, campuran dinamis ion, elektron, radikal bebas, foton, spesies tereksitasi metastaple, lihat Gambar 1.

Keuntungan yang diberikan oleh teknologi plasma dalam rantai pasokan tekstil, sebagai berikut :

  • Teknologi cepat, fleksibel, dan serbaguna untuk fungsionalisasi tekstil.
  • Dampak lingkungan rendah (teknologi bersih dan berkelanjutan).
  • Pengurangan dalam penggunaan bahan kimia berbahaya dalam perawatan permukaan saat ini dan proses pelapisan / laminasi.
  • Biaya energi, air pendingin dan bahan kimia yang digunakan dalam perawatan plasma relatif rendah.

Teknologi plasma mempunyai hambatan dan tantangan dalam penerapannya untuk tekstil, yakni investasi yang dibutuhkan cukup besar untuk teknologi dan permesinannya serta SDM yang berkualitas. Hal ini tidak sepadan dengan tingkat pemanfaatan yang diharapkan dan waktu siklus yang diproyeksikan.

Nanoteknologi memiliki potensi komersial yang nyata dalam industri tekstil, selain itu aplikasinya sangat luas mulai dari baju sehari-hari dan kostum olahraga hingga tekstil rumah tangga seperti tirai, seprai dan penutup sofa. Nanoteknologi dapat memberikan afinitas yang lebih baik sehingga meningkatkan daya tahan tahan kain.  Nanofiber (serat nano) memiliki ukuran bervariasi mulai dari satu mikron proses electrospinning menggunakan berbagai macam jenis bahan baku seperti karbon.[3]  Area aplikasi untuk nanoteknologi lainnya, seperti: filter multifungsi (debu, bakteri, virus), produk balistik, perancah untuk rekayasa jaringan (scaffolds for tissue engineering), membran untuk pelapisan dan laminasi, komposit nanofiber, finishing fungsional tekstil, tekstil pintar (smart textile).[3] 

Serat halus kemudian dikumpulkan dalam lembaran non-woven. Nanofiber yang dihasilkan dengan medote ini memilki lapisan yang bagus dengan bobot yang sangat ringan Lembaran non-woven yang sangat halus ini dapat digunakan sebagai membran berpori pada pakaian olahraga yang berfungsi mengalirkan keringat dan udara keluar namun mencegah tetesan air bisa masuk. Dalam jumlah tertentu nanofiber dapat digabungkan pada permukaan benang untuk menghasilkan sifat khusus.

Selanjutnya teknologi mikroenkapsulasi adalah metode yang efektif untuk melindungi tekstil fungsional dari reaksi dengan misalnya; kelembaban, cahaya, dan oksigen. Jika kain diperlakukan dengan zat fungsional mikroenkapsulasi, maka tekstil mempunyai daya tahan fungsionalitas yang lebih tinggi.  Phase Change Materials (PCM) menghasilkan efek pengatur suhu.  Ketika suhu dalam iklim mikro meningkat, PCM menyimpan panas berlebih. Ketika suhu turun lagi, tekstil akan melepaskan panas yang tersimpan sebelumnya.[3]

Teknologi yang muncul seperti teknologi plasma, nanoteknologi, dan teknologi mikrokapsulasi akan menyediakan alat yang kuat bagi industri tekstil untuk menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, baik di area komoditas maupun produk canggih.  Namun, untuk tujuan ini, komunitas penyedia teknologi dan industri tekstil perlu bekerja sama secara erat. Banyak yang telah dilakukan oleh kemitraan ini, tetapi masih banyak yang harus dilakukan.

Referensi :

  1. https://www.kompasiana.com/fadhilimam/5ad47de85e13730e0825e112/mengapa-teknologi-indonesia-kurang-maju?page=all
  2. BJ. Habibie, Empat Tahap Transformasi Teknologi & Industri.
  3. Roshan Shishoo, New trends in materials and technologies for technical textiles, Hightex Expo 2008, Montreal, 6-7 October 2008.

 

Kontributor :

  1. Dr. Ir. Sudirman Habibie, M.Sc.
  2. Hariaman Prasetyo, S.Si (Editor)
  3. Ronald Taufiq Waluyo A.md (Ilustrator)

© 2021 Designed by Pusat Teknologi Material dan Pusat Manajemen Informasi - BPPT