• (021) 75791324
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Komersialisasi Hasil Inovasi Teknologi-Studi Kasus: Rubber Air Bag

Melimpahnya karet alam di Indonesia ternyata tidak membuat bahan baku yang menjadi komoditas ekspor tersebut dapat diserap oleh industri dalam negeri. Salah satu produk industri hilir barang jadi karet adalah rubber air bag (karet peluncur kapal) yang digunakan oleh industri perkapalan untuk membantu proses menaikkan dan menurunkan kapal di galangan kapal. Hanya saja, selama ini rubber air bag yang digunakan di galangan kapal di Indonesia masih sepenuhnya impor baik dari sisi bahan baku maupun dari produk rubber air bag itu sendiri.

Melihat kondisi tersebut, BPPT dalam hal ini Pusat Teknologi Material (PTM) bekerja sama dengan industri karet tertantang untuk membuat produk rubber air bag yang dapat diproduksi oleh industri lokal mengingat potensi konsumsi rubber air bag yang tinggi dalam proses reparasi dan pembuatan kapal baru.

 

Penggunaan produk rubber air bag menjadi pilihan banyak galangan dikarenakan biaya investasi yang jauh lebih murah dibandingkan dengan pembangunan galangan konvensional dan proses penggunaannya yang juga lebih mudah. Hal ini terlihat dari banyaknya industri galangan kapal di Indonesia, terutama di sepanjang pantai utara jawa yang secara konvensional menggunakan rubber air bag impor dalam proses menaikkan dan menurunkan kapal di galangan kapal.  Rubber air bag terbuat dari silinder karet raksasa yang ditiup dengan dua ujung berbentuk kerucut. Airbag pertama kali disisipkan di bawah kapal. Air bag memberikan dukungan pada lambung kapal dan rolling airbag ini meluncurkan kapal ke dalam air. Proses ini lebih sederhana, lebih ekonomis dan bisa dibilang lebih aman dari pada opsi lain seperti peluncuran ke samping.

Tahun 2013 merupakan tahun  dimulainya riset untuk membuat produk rubber air bag, melalui program Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional dimulailah penelitian dan pengembangan rubber air bag di PTM BPPT. Hal ini membuat ia dan tim melakukan review terhadapat produk air bag yang digunakan galangan kapal di Indonesia. Mengapa tidak menggunakan karet alam yang ada di Indonesia mengingat bahan karet alam yang melimpah dan dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan rubber air bag di Indonesia sebagai substitusi dari karet sintetis serta mendorong industri dapat memproduksi rubber air bag buatan dalam negeri.

Salah satu yang menjadi tantangan adalah pada bagian luar dengan karakter karet alam yang harus memiliki kekuatan tertentu karena terjadi kontak dengan udara dan air laut serta gesekan dan tekanan dari lambung kapal. Sehingga memerlukan formula bagaimana karet yang diproduksi dapat tahan terhadap gesekan dan air laut. Dalam review proses dan re-formulasi yang telah dilakukan, terbukti bahwa penggunaan karet alam sebagai bahan baku pembuatan Rubber Air Bag dapat memberikan berbagai keuntungan, seperti ketahanan terhadap gesekan, ketahanan abrasi yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan karet sintetik serta kemudahan mendapatkan bahan bahan baku serta harga yang lebih murah. Tantangan lainnya ada pada proses penentuan formulasi kompon dari bahan baku karet alam yang diperlukan untuk pembuatan model fisik rubber air bag yang terdiri dari tiga bagian utama yaitu karet bagian dalam, karet bagian luar dan lapisan penguat (reinforcement) dengan karakteristik masing-masing bagian yang berbeda satu sama lain.

Proses pengembangan inovasi Rubber Air Bag buatan dalam negeri berbahan dasar karet alam bukanlah tanpa hambatan. PTM dari sisi formulasi proses, masih memerlukan penyempurnaan formulasi dan uji lanjutan prototipe untuk meningkatkan kualitas maupun dimensi produk yang terus berkembang. Dari sisi proses, diperlukan proses sertifikasi produk untuk menumbuhkan kepercayaan pada industri galangan kapal dalam rangka penetrasi pasar, dengan pendampingan dari sisi teknologi maupun kebijakan dari berbagai pemangku kepentingan.

Keberhasilan inovasi ini menjadikan produk rubber air bag buatan industri dalam negeri dapat menjadi alternatif substitusi produk impor yang selama ini digunakan. Dengan keunggulan yang dimiliki mulai dari bahan baku karet alam untuk produksi yang melimpah, disertai dengan keunggulan karet alam itu sendiri yang lebih tahan sobek dan gesek. Tidak berhenti pada inovasi, produk ini sudah mencapai tingkatan komersialisasi teknologi. Komersialisasi teknologi merupakan serangkaian proses dari pengembangan dan pemasaran sebuah teknologi. Teknologi tersebut dirancang untuk mencapai suatu titik yang dapat diaplikasikan pada suatu kegiatan produksi atau konsumsi sehingga dapat menghasilkan keuntungan.

Produk rubber airbag lokal ini memiliki harga yang lebih kompetitif dibandingkan dengan produk impor serta memiliki layanan purna jual dari produsen, disamping dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi industri hilir karet dalam pengadaan produk yang memiliki Standar Nasional Indonesia.

Kontributor :

  1. Drs. Herri Susanto, BE.MSTM.
  2. Aditya E.M., ST (Editor dan Ilustrator)

© 2021 Designed by Pusat Teknologi Material dan Pusat Manajemen Informasi - BPPT