• (021) 75791324
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Acara Rakernas Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi, Pusat Teknologi Material Paparkan tentang Kegiatan Inovasi Teknologi Implan Tulang dan Gigi

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, menyelenggarakan acara Rakernas Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi pada Rabu, 4 Maret 2021. Acara diselenggarakan secara virtual dengan mengusung 9 (sembilan) bidang fokus, diantaranya bidang energi, kesehatan dan pangan, transportasi, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, mitigasi bencana, rekayasa dan keteknikan, informasi dan elektronika serta peningkatan penggunaan produksi dalam negeri.

Dalam acara ini, Pusat Teknologi Material (PTM) berkesempatan menyampaikan paparan di bidang kesehatan dan pangan dengan mengusung salah satu kegiatan unggulannya yaitu Inovasi Teknologi Implan Tulang dan Gigi. Paparan secara langsung disampaikan oleh Direktur PTM, Dr. Ade Sholeh Hidayat, MT.

“Kegiatan ini didasari oleh adanya urgensi kenapa kegiatan inovasi teknologi implan tulang dan gigi ini perlu dilakukan, karena memang ada aturan-aturan yang mendukung di antaranya UU No. 24/2011 tentang BPJS Kesehatan. Kemudian ada Permenkes No. 17 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Dan sebagai informasi, kebutuhan akan implan tulang di Indonesia sekitar 120 ribu per tahunnya dengan nilai sekitar 600 Milyar Rupiah,” ungkap Dr. Ade Sholeh Hidayat, MT membuka paparannya.

Selain implan tulang, kebutuhan implan gigi di Indonesia menurut data dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) sekitar 2.500 buah per bulan dengan harga rata-rata Rp 2,5 juta. Oleh karena itu, dana yang harus dikeluarkan kurang lebih sebesar Rp 75 Milyar per tahun untuk kebutuhan implan gigi yang sepenuhnya masih impor.

“Urgensi lain, kita juga sudah ada mitra industri diantaranya  adalah PT. Zenith Allmart Precisindo dan PT. Pudak Scientific sebagai salah satu industri yang menopang ke arah komersialisasinya,” tambah beliau.

Dr. Ade Sholeh Hidayat, MT menyampaikan tujuan utama dari kegiatan inovasi teknologi implan ini yaitu diharapkan ada produk lokal yang memiliki daya saing dan ada industri dalam negeri yang bisa memproduksi implan tulang dan implan gigi sesuai standar medis.

“Harapannya ke depan bahwa produk-produk ini menjadi produk lokal yang memiliki kandungan lokal bisa 100%, dan juga bisa memberikan nilai tambah diantaranya harga yang murah serta untuk kualitas tidak kalah dengan produk impor,” ungkapnya.

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang berlanjut setiap tahunnya. Seperti yang disampaikan oleh beliau, ada beberapa sasaran yang akan dituju pada tahun anggaran 2021 diantaranya uji klinik prototipe implan gigi, uji coba produksi semen tulang PMMA (polymethyl methacrylate), uji dinamis komponen THA/THR (Total Hip Arthroplasty/ Total Hip Replacement), rekomendasi pengembangan instrumentasi implan tulang, rekomendasi percepatan adopsi dan difusi inovasi teknologi implan tulang. Disamping itu, kegiatan ini juga memiliki roadmap yang telah disusun dari tahun 2020 sampai dengan 2024.

“Di tahun 2020, sudah bisa menghasilkan bone plate dan sudah mendapatkan izin edar dari Kemenkes. Tahun ini, 2021, kita harapkan bisa mendapatkan izin edar untuk impan gigi, bahkan di 2021-2022 akan menghasilkan suatu produk implan tulang belakang yang tentunya sudah memiliki izin edar. Kita juga mengembangkan produk HA (hydroxyapatite), mudah-mudahan di tahun 2022 bisa kita hilirisasi untuk mendapatkan izin edarnya. Juga implan THA serta semen tulang PMMA, dan terakhir di tahun 2024 bisa mendapatkan izin edar,” papar beliau.

Dari rangkaian kegiatan ini, diharapkan BPPT khususnya PTM bisa setiap tahun mengeluarkan satu produk komersial yang dapat dihilirisasi. Tentunya hal ini perlu dilakukan kerjasama dengan stake holder lain, terutama dari Kemenkes yang akan mengeluarkan izin edarnya. Selain itu perlu dilakukan kerjasama dengan stake holder pelaksana pengujian uji klinik maupun pra-klinik diantaranya pihak rumah sakit dan asosiasi serta industri yang siap memproduksi inovasi tersebut. Beberapa produk telah berhasil terhilirisasi, salah satunya implan traumatik titanium.

“Ini adalah salah satu contoh produknya, kami di bulan Oktober tahun 2020, sudah dilaksanakan kontrak bisnis antara Pusyantek dalam hal ini mewakili BPPT dengan PT. Zenith Allmart Precisindo dan produk yang dikomersialisasi adalah implan traumatik titanium,” lanjut beliau.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Ade Sholeh Hidayat, MT menyampaikan capaian-capaian kegiatan Inovasi Teknologi Implan Tulang dan Gigi di tahun 2020, diantaranya uji pra-klinik implan gigi, uji pra-klinik implan tulang belakang pada model kadaver.

“Tentunya harapan kami di tahun berikutnya kegiatan ini akan menghasilkan produk yang lain. Untuk tahun 2020 kami sudah melaksanakan uji pra-klinik implan gigi yang dalam prosesnya ditingkatkan menjadi uji klinik. Kemudian juga uji pra-klinik implan tulang belakang sudah kami lakukan. Tentunya ke depan masuk ke uji klinik,” kata beliau dalam paparannya.

Beliau menyampaikan bahwa semua itu bisa dilakukan melalui kerjasama dengan perguruan tinggi dalam hal ini Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Padjajaran (UNPAD) serta pihak rumah sakit yaitu Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan asosiasi-asosiasi diantaranya Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Perhimpunan Ahli Bedah Ortopedi Indonesia (PABOI). Untuk memproduksi dan menghilirisasi, seperti disampaikan oleh Dr. Ade Sholeh Hidayat, MT, tidak dapat dilakukan sendiri tapi membutuhkan mitra industri yang siap mendukung, menghilirisasi dan mengindustrialisasi produk-produk hasil inovasi yang telah dilakukan.

“Diantaranya mengenai produk HA, PT. Pudak sudah siap memproduksi dalam skala industri. Ada juga komponen THA, kami didukung oleh PT. Itokoh. Kemudian ada produk semen tulang PMMA, ada PT Patriot Medika Nusantara sebagai mitranya,” ungkap beliau.

Di akhir paparannya, beliau menyampaikan harapannya terkait produk-produk alat kesehatan hasil inovasi BPPT, tidak hanya butuh kerjasama dengan industri namun juga butuh kebijakan yang mendukung.

“Dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan bahwa ada beberapa produk dari BPPT hasil inovasi teman-teman semua yang tentunya butuh masukan, butuh bimbingan, butuh input bagaimana produk hasil inovasi ini pada intinya bisa segera terhilirisasi dan terkomersialisasi. Dan tentunya tidak hanya dibutuhkan kerjasama antara industri ataupun Perekayasa, tetapi juga perlu dukungan kebijakan-kebijakan. Dalam hal ini untuk bisa mempercepat pertumbuhan industri dalam negeri dalam rangka kemandirian industri kesehatan nasional,” pungkas beliau mengakhiri paparan.

Semoga diskusi dalam acara Rakernas Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi kali ini dapat memberikan masukan dan jalan keluar mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi khususnya terkait industri di bidang kesehatan. (PTM-BPPT:IDM)


© 2021 Designed by Pusat Teknologi Material dan Pusat Manajemen Informasi - BPPT