Tel: (021) 75791324, Email: sekr-ptm@bppt.go.id

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui Pusat Teknologi Material dan Balai Teknologi Polimer,  meluncurkan prototipe “Bale Kohana” di Gedung 224, Kawasan Puspiptek pada Rabu, 22 Mei 2019. Bale Kohana merupakan konstruksi tahan gempa yang terbuat dari material komposit dengan beberapa keunggulan diantaranya bersifat kuat, ringan, tahan terhadap api serta anti bakteri. Inovasi ini dikembangkan untuk mendukung flagship tahan gempa, dimana dari kejadian gempa sebelumnya para korban banyak yang tertimpa reruntuhan bangunan dan menimbulkan trauma serius bahkan kematian.

“Awalnya ini adalah rumah komposit. Kemudian kami berkolaborasi dengan PT. Bondor dan PT. Tata Logam, membangun dan mendesain ulang. Apa yang bisa di-deliver oleh BPPT dalam kondisi bencana. Rumah ini dibangun dengan berbasis polimer. Kita menginginkan agar makin kuat dan ringan sehingga kalau roboh tidak pecah atau retak, dan tidak membuat luka yang mendalam seperti patah tulang”, ujar Deputi Teknologi Informasi, Energi dan Material, Prof. Dr.-Eng. Eniya Listiani Dewi, B.-Eng, M.-Eng dalam sambutannya.

Material komposit, seperti halnya komposit polimer, memiliki banyak keunggulan, diantaranya kuat dan ringan. Beberapa dekade terakhir pemakaian material polimer komposit makin meningkat karena sifat tekniknya yang baik seperti kekuatan dan kekakuan khusus yang tinggi, kepadatan rendah, ketahanan lelah yang tinggi, redaman tinggi dan koefisien termal rendah. Berbagai material yang memiliki sifat tahan api (flame retardant) ini cukup ringan seperti panel FRP, non metal, styrofoam, aluminium sehingga total berat struktur rumah komposit dapat mencapai seperempat kali dibandingkan berat struktur rumah konvensional.

“Sifat-sifat materialnya sangat menguntungkan diantaranya tidak korosi, lalu knock down dan kita berharap untuk desain yang dikembangkan saat ini sudah terstandarisasi dan juga lolos uji struktur. Jadi pada saat ini, di simulasi, Bale Kohana sudah berhasil tahan sampai 7 skala Richter. Jadi kita inginkan pengujian struktur ini bisa lebih kita tingkatkan,” tambah beliau.

Rumah ini didesain dengan konstruksi modular, pre-assembly, dan sistem join interlock yang dapat dibangun dengan waktu yang relatif singkat serta telah dilakukan simulasi komputasi untuk prediksi ketahanan gempa menyesuaikan perilaku gempa di wilayah zonasi gempa Lombok 2018.

“Selain desain tentu saja inovasi formulasi dari bahan materialnya itu kita kembangkan lebih lanjut. Saat ini sudah berkolaborasi dengan PT. Bondor dan PT. Tata Logam Lestari, ke depan akan berkolaborasi lebih jauh untuk membuat rumah-rumah tahan gempa yang lain,” tambah beliau.

Kurangnya kesadaran masyarakat di daerah rawan bencana gempa, untuk membangun rumah atau gedung dengan material dan komponen struktur serta teknik ketahanan terhadap gempa mendorong BPPT dalam hal ini Pusat Teknologi Material melakukan desain dan pengembangan bangunan rumah komposit dengan konsep cepat bangun sejak tahun 2016.

“Ini merupakan salah satu upaya BPPT dalam memberikan solusi teknologi yang  dapat dimanfaatkan sebagai sarana pencegahan, penanganan, dan pemulihan korban akibat bencana gempa bumi,” kata Dr.Ir. Hammam Riza, M.Sc selaku Kepala BPPT saat peresmian Bale Kohana.

Lebih jauh, material bangunan dapat diangkut dengan cukup ringan melalui  jalur darat, laut, atau udara ke lokasi yang membutuhkan. Lebih lanjut, Program ini diharapkan mendukung salah satu 25 Program Prioritas dalam Rencana Kerja Pemerintah 2020 yaitu Penguatan Infrastruktur Kawasan Tertinggal dan Ketahanan Bencana yang ditetapkan Kementerian PPN/BAPPENAS saat MUSRENBANGNAS 2019.

Sebagian besar wilayah Indonesia masuk ke dalam jalur cincin api (ring of fire) sehingga berpotensi terjadinya bencana gempa bumi. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh BNPB pada periode tahun 2000 hingga 2018, tercatat telah terjadi sekitar 228 kali gempa bumi, dengan korban meninggal dunia sebanyak 8.747 orang dengan tingkat kerusakan bangunan rumah sebesar 483.951 unit rusak berat, 15.282 unit rusak sedang dan 694.253 unit rusak ringan. Berbagai bencana yang terjadi tentu membuat pemerintah melakukan berbagai proses mitigasi bencana. Belum lagi penanganan masalah pengungsi dan setelah bencana terjadi. Kerugian yang diakibatkan bencana ini salah satunya adalah kerusakan bangunan. Karena itu kebutuhan akan hunian yang aman saat bencana terjadi masih sangat besar. Sejumlah negara yang rawan bencana seperti Jepang, memiliki rumah khusus tahan gempa bagi warganya. Indonesia pun harus mempunyai rumah tanggap darurat untuk bencana. BPPT memandang diperlukan adanya suatu Inovasi teknologi bangunan rumah tahan gempa yang meliputi desain, konstruksi, material dan pengujian struktur untuk menghasilkan bangunan tahan gempa.

"Risiko bencana gempa bumi, khususnya yang mengakibatkan kerusakan bangunan perlu diantisipasi dengan hunian atau rumah yang didesain tahan terhadap gempa. Baik secara struktur, konstruksi dan material,” kata Dr.Ir. Hammam Riza, M.Sc selaku Kepala BPPT saat peresmian Bale Kohana.

Prototipe Bale Kohana yang di-launching merupakan rumah tipe 36 dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu dan satu kamar mandi dan dapur. Ini diharapkan agar masyarakat yang menempati merasa nyaman dan terlindungi.

"Untuk satu rumah tipe 36 ini harganya Rp175 juta. Tapi kalau rumah Bale Kohana ini dibangun massal maka harganya bisa turun," tambahnya.

Rumah tahan gempa tersebut juga tahan api di mana telah diuji tidak terbakar dalam suhu 923 derajat Celcius selama 30 detik dan 743 derajat Celcius selama dua menit. Sementara standar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) harus tahan api paling tidak selama lima menit. Bale Kohana akan dikembangkan tahan api untuk jangka waktu lebih lama dari uji coba sebelumnya.

“Dengan tagline BPPT yang saya tetapkan, yaitu smart, solid, speed, saya sangat berharap semoga Program Flagship Pengembangan Bangunan Tahan Gempa yang diperkuat dengan sinergi kerjasama yang dilakukan dengan berbagai pihak dapat segera membuahkan impact terwujudnya inovasi bangunan rumah tahan gempa yang cepat bangun, tahan api dengan harga yang terjangkau sebagai karya anak bangsa yang dapat berguna dan dinikmati oleh masyarakat luas,” ungkapnya.

Statistik Pengunjung

Today116
Yesterday175
This week887
This month1054
Total205968

Kontak Kami

Tel: (021) 75791324

Email: sekr-ptm@bppt.go.id

Alamat: Gedung 224, Kawasan PUSPIPTEK