Tel: (021) 75791324, Email: sekr-ptm@bppt.go.id

 Inovasi Teknologi Penumbuhan Kristal Silikon untuk Mendukung Penguatan Industri Sel Surya Dalam Negeri

 Indonesia berada di lingkar khatulistiwa, memiliki potensi besar untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan tak terbatas, yaitu energi surya yang setara dengan 4 kilo-Watt hour (kWh)/meter persegi/tahun, guna mengatasi kenaikan kebutuhan listrik nasional Indonesia. Untuk itu, BPPT mengembangkan teknologi sel surya berbasis teknologi silikon melalui pemanfaatan sumber daya lokal dan penguatan industri dalam negeri. Kegiatan inovasi teknologi material sel surya ini mendukung program prioritas nasional di bidang Material Maju dan Energi Baru Terbarukan menuju kemandirian Bahan Baku Industri Nasional Berbasiskan Silikon.

Read more:  Inovasi Teknologi Penumbuhan Kristal Silikon untuk Mendukung Penguatan Industri Sel Surya Dalam...

BPPT Teken Kerjasama dengan BNPB, Hadirkan Teknologi untuk Penanggulangan Bencana Nasional

Berita berikut di kutip dari salah satu Berita di website resmi BPPT

Penanggulangan bencana di negeri tercinta Indonesia, tak pelak, juga membutuhkan dukungan teknologi. Hal ini khususnya terkait teknologi untuk deteksi dini bencana (early warning system), mitigasi bencana, serta penanggulangannya.

Terkait hal itu, BPPT lakukan Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), di Yogyakarta, (23/2).

Read more: BPPT Teken Kerjasama dengan BNPB, Hadirkan Teknologi untuk Penanggulangan Bencana Nasional

Inovasi Material Baterai

Peran baterai menjadi begitu penting mengingat aktivitas manusia yang semakin mobile sehingga tidak memungkinkan untuk selalu berada di dekat sumber listrik. Oleh karena itu, banyak penelitian baterai berfokus pada bidang teknologi material untuk meningkatkan daya tahan, densitas energi, kecepatan pengisian ulang (fast charging), dan mengurangi bobot.

Read more: Inovasi Material Baterai

Kajian Kebutuhan Kondisi Peleburan dan Pengecoran Paduan Titanium Kebutuhan Kondisi Peleburan dan Pengecoran Paduan Titanium

Permasalahan utama dengan proses pengecoran paduan Titanium adalah bersifat reaktif terhadap elemen-elemen pada atmosfir udara seperti halnya oksigen dan nitrogen. Proses peleburan harus dilakukan di dalam furnace dengan tingkat vakum yang tinggi atau dengan adanya gas inert untuk menghindari pelarutan oksigen dan nitrogen ke dalam Titanium cair. Oksigen dan Nitrogen memiliki kelarutan yang cukup tinggi dalam logam Titanium paduan. Ketika proses pendinginan, kedua unsur ini akan membentuk oksida dan nitrida yang berdampak negatif terhadap sifat-sifat mekanis paduan. Selain reaktif terhadap unsur-unsur yang terdapat pada atmosfir, Titanium cair juga bersifat reaktif terhadap semua jenis keramik oksida. Reaktivitas yang tinggi terhadap keramik merupakan tantangan utama dalam proses pengecoran dengan metode investment casting, dengan asumsi bahwa proses peleburan telah dilakukan dengan furnace yang sesuai. Paduan Titanium cair akan bereaksi dengan oksida keramik dan melepaskan oksigen yang akan larut dalam Titanium. Dan ketika proses pendinginan, akan terbentuk lapisan permukaan yang telah terkontaminasi yang biasa disebut dengan Alpha Case. Alpha case merupakan lapisan pada permukaan casting yang kaya akan kandungan oksigen. Lapisan ini terbentuk sebagian besar disebabkan adanya reaksi antara Titanium cair dengan cetakan keramik. Lapisan Alpha case merupakan fasa alpha Titanium yang distabilisasi oleh oksigen dan Aluminium. Kadar oksigen pada lapisan permukaan lebih tinggi dibandingkan pada base metal. Lapisan ini bersifat keras dan rapuh (brittle) dibandingkan dengan base metal sehingga harus dihilangkan pada sebagian besar casting, khususnya bagi pengecoran produk yang memerlukan persyaratan sifat mekanis yang tinggi.

Read more: Kajian Kebutuhan Kondisi Peleburan dan Pengecoran Paduan Titanium Kebutuhan Kondisi Peleburan dan...

Kerjasama Energi Baru terbarukan Indonesia (BPPT) dan Perancis (INES)

Berita ini repost dari lintasparlemen.com

Indonesia berada di lingkar khatulistiwa, memiliki potensi besar untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan tak terbatas, yaitu energi surya yang setara dengan 4 kilo-Watt hour (kWh), guna mengatasi kenaikan kebutuhan listrik nasional Indonesia.

Salah satu Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang berada di bawah koordinasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, yakni Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berupaya mengembangkan teknologi sel surya berbasis teknologi silikon melalui pemanfaatan sumber daya lokal dan penguatan industri dalam negeri.

Read more: Kerjasama Energi Baru terbarukan Indonesia (BPPT) dan Perancis (INES)

Statistik Pengunjung

Today74
Yesterday136
This week1003
This month2307
Total143668

Kontak Kami

Tel: (021) 75791324

Email: sekr-ptm@bppt.go.id

Alamat: Gedung 224, Kawasan PUSPIPTEK