Tel: (021) 75791324, Email: sekr-ptm@bppt.go.id

Dalam rangka Konggres Teknologi Nasional 2018 (KTN 2018), Pusat Teknologi Material – BPPT menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertemakan “Tantangan dan Peluang Inovasi Teknologi Material untuk Meningkatkan Daya Saing Menuju Kemandirian Bangsa” pada Kamis, 14 Maret 2018 bertempat di Ruang Komisi 2 Gedung II BPPT Lantai 3, Jl. M.H. Thamrin No. 8 Jakarta Pusat. FGD dilaksanakan untuk melihat peluang dalam menyatukan persepsi yang sama bagi pembangunan dan kesejahteraan melalui teknologi material. Secara pararel, dilaksanakan 3 FGD sekaligus dengan subtema yang berbeda yaitu FGD 1 dengan subtema “Import Bahan Baku versus Kekayaan Sumber Daya Alam”, FGD 2 dengan subtema “Peluang dan Tantangan Teknologi Material Industri Pangan dan Kesehatan” dan FGD 3 bersubtemakan “Peran Teknologi Material Dalam Mendukung Pengembangan Industri Alat Transportasi dan Alat Pembangkit Energi sampai dengan 2035”. Acara ini merupakan FGD pertama dalam rangkaian FGD untuk menyambut KTN 2018 yang akan diadakan pada Juli mendatang.

“Sebenarnya, peluang Indonesia untuk berkembang menjadi negara ekonomi kuat dunia terbuka sangat lebar. Untuk itu, Indonesia perlu industri yang kuat, yang memiliki daya saing dalam memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun internasional sehingga Indonesia bisa mandiri,“ ujar Asep Riswoko selaku Direktur Pusat Teknologi Material – BPPT dalam sambutannya saat membuka acara.

Lanjut Asep, untuk kondisi saat ini, pembangunan industri untuk memperkuat perekonomian nasional masih terkendala oleh lemahnya kontribusi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Kita belum memiliki persepsi dan perencanaan yang komprehensif bagaimana daya saing industri dibangun dari kekuatan SDM melalui litbang yang memiliki kaji terap dan menghasilkan inovasi-inovasi yang diterapkan di industri,” tambah beliau.

Menurut Asep, Indonesia memiliki kekuatan SDM yang cukup banyak di bidang riset material, tersebar di lembaga litbang pemerintah, akademisi dan industri. Diantaranya tergabung dalam beberapa komunitas seperti MMI, MRS, MNI dan himpunan-himpunan.

“Kita perlu menggali kemampuan untuk mengatasi persoalan ketergantungan impor. Kita juga perlu mencari terobosan-terobosan inovasi teknologi khususnya bidang material untuk mengurangi ketergantungan impor karena Indonesia memiliki SDM yang besar”, kata Asep.

Terkait persoalan impor ini, dibahas lebih lanjut dalam FGD 1 dengan subtema “Import Bahan Baku versus Kekayaan Sumber Daya Alam” dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Perdagangan, Kemenristekdikti, Kemenkominfo dan Kemenperin. Adapun tujuan FGD 1 yaitu untuk mengindentifikasi peluang dan tantangan teknologi material dalam mendukung industri khususnya tekstil, kulit, alas kaki & aneka serta elektronika & telematika (ICT). Sementara itu, FGD 2 membahas tentang peluang dan tantangan teknologi material dengan fokus pada industri pangan dan kesehatan.  Sedangkan FGD 3, memfokuskan pada industri alat transportasi dan pembangkit listrik, membahas tentang peran teknologi material pada kedua industri tersebut.

Masalah pengolahan sumber daya alam menjadi bahan baku yang efektif bagi peningkatan daya saing juga menjadi persoalan yang disinggung oleh Asep Riswoko. Persoalan lainnya menyangkut inovasi-inovasi agar semakin memperkuat industri, dimana inovasi di Indonesia dinilai masih sangat minim.

“Kami berharap agar FGD ini dapat menjadi forum komunikasi efektif untuk menyamakan persepsi dalam mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi,” pungkas beliau.

Adapun peserta FGD terdiri atas para pakar dari lembaga litbang, pemerintah dan industri. Hasil dari FGD pertama ini nantinya akan menjadi bahan acuan dan dasar untuk pelaksanaan FGD selanjutnya agar lebih mengerucut.

 

(PTM-BPPT: ARW-IDM, Foto: DAS , Keg : KTN 2018)

Statistik Pengunjung

Today50
Yesterday108
This week365
This month2146
Total135848

Kontak Kami

Tel: (021) 75791324

Email: sekr-ptm@bppt.go.id

Alamat: Gedung 224, Kawasan PUSPIPTEK