Focus Group Discussion Penguatan Inovasi Teknologi dalam Pengembangan Industri Alat Kesehatan Nasional

Pusat Teknologi Material (PTM)-BPPT bekerja sama dengan Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM)-BPPT dan Pusat Teknologi Elektronika (PTE)-BPPT mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bertemakan “Penguatan Inovasi Teknologi dalam Pengembangan Industri Alat Kesehatan Nasional” pada Selasa, 23 Mei 2017. Acara yang diselenggarakan di Hotel Grand Zuri, Tangerang Selatan ini dimoderatori oleh Dr. Yaya Suryana, dari Pusat Teknologi Elektronika (PTE)-BPPT. FGD dilaksanakan untuk membahas berbagai permasalahan dan tantangan di bidang alat kesehatan (alkes) serta upaya percepatan untuk penguasaan, pengembangan dan penerapan teknologinya. Selain itu, acara ini diharapkan dapat mendorong peningkatan invensi dan inovasi teknologi alkes di Indonesia.
 
“Kegiatan FGD juga dipersiapkan untuk acara Kongres Teknologi Nasional (KTN) 2017 yang merupakan salah satu inisiasi BPPT untuk memberikan media komunikasi intensif antar stakeholder, memberikan ruang mediasi antara para peneliti dengan praktisi industri serta memberikan sarana untuk merumuskan berbagai masukan dan rekomendasi penting. Selain itu, juga sebagai sarana pertanggungjawaban publik atas kinerja BPPT, lembaga riset, perguruan tinggi dan industri”, ujar Dr. Asep Riswoko, B.Eng., M.Eng dalam sambutannya.
 
Kebutuhan alat kesehatan di Indonesia cukup banyak dan sebagian besar dipenuhi dari impor. Seperti yang disampaikan oleh Drg. Arianti Anaya, MKM selaku Direktur Penilaian Alkes dan PKRT Kemenkes, bahwa Kemenkes menerima lebih dari 100 berkas permohonan ijin setiap harinya. Kemenkes telah mengeluarkan lebih dari 60 ribu ijin edar dan kebanyakan adalah produk impor sebesar 92,4%. Sedangkan produk dalam negeri, adalah sisanya yang hanya 7,6%. Oleh karena itu, pengembangan riset alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) dengan peran ABCG (Academic, Business, Community and Government) sangat penting dilakukan.
 
Senada dengan yang disampaikan oleh Dr. Pamudji Utomo, SpOT(K), Direktur Utama RS. Prof. DR. R. Soeharso, Surakarta bahwa kebutuhan implan orthopedi di Indonesia sebagian besar dipenuhi oleh produk impor. Dan produk ini tidaklah murah. Misalkan saja, kebutuhan akan THA (Total Hip Arthroplasty), untuk operasi pada panggul dan umumnya diperuntukan bagi orang yang telah lanjut usia, produk impor seharga Rp 30-40 juta. Bahkan untuk produk yang terbuat dari keramik harganya bisa mencapai Rp 100 juta lebih.
 
Pusat Teknologi Material (PTM)-BPPT mengembangkan implan tulang dari stainless steel tipe 316L dengan menggunakan bahan baku lokal feronikel dari Pomalaa. Implan yang dikembangkan relatif lebih murah dibandingkan produk impor yang sejenis. Pengembangan ini dilakukan untuk menjawab tantangan akan pemenuhan alat kesehatan dengan harga ekonomis, terutama implan tulang yang kebutuhannya semakin meningkat.
 
(PTM-BPPT:IDM; Foto: Dok. Pribadi)